|
Gerard Mosterd ”Berkebun” di
Panggung Tari
JAKARTA – Kebun adalah
tempat pepohonan dan bunga-bunga tumbuh dan hewan-hewan kecil
berkumpul. Selama ini, kita hanya tahu kebun dalam bentuk fisik.
Namun, bagaimana jika kebun diwujudkan dalam sebuah gerak tubuh?
Gerard Mosterd, koreografi asal Belanda, menciptakan komposisi gerak
yang terinspirasi dari sebuah kebun. Para penari membuat gerakan
yang menghasilkan kesan tertentu, mulai dari tangan yang menekuk dan
berjalan terbungkuk. Mereka membentuk unggas berupa ayam atau
burung. Atau, mereka menggeliat dan berjalan ”dengan perut” mirip
liukan cacing (atau ulat). Tiga penari yang bergerak dengan
mengangkat tangan tinggi dan tubuh yang meliuk semacam pohon yang
bergerak ditiup angin, hingga pemain yang menggapai serupa gerakan
tangan orang berenang, mengesankan seekor ikan.
Gerard memang kerap menghasilkan gerakan-gerakan multi-makna seperti
itu. Dengan membubuhkan tema untuk ”penyempitan” aura sajiannya,
penari mengeksplorasi tak hanya dalam pola formasi dan gerak, tapi
juga memberikan gerakan simbolik untuk makna. Seperti ketika dia
membuat simbol gerak jam pada nomornya terdahulu berjudul
”Stretching Time” yang dipagelarkan di Graha Bakti Budaya Taman
Ismail Marzuki pertengahan Juli lalu. Kini, di tempat yang sama
(7/9), Gerard menampilkan lagi nomor koreografinya yang lain,
bertajuk ”Kebun”.
Kebun adalah sketsa sebuah taman, yang diinterpretasi dalam bentuk
gerakan tari di atas panggung. Di luar simbol itu, gerak para penari
yang ditampilkan juga sangat harmonis dan berbeda, walau Gerard
sangat trampil dengan gerak-gerak manis.
Perbedaan yang paling mendasar dalam nomor tari ini adalah bahwa
para penarinya adalah penari-penari Indonesia. Musiknya digarap oleh
David Sylvian, David Cunningham dan Yoshiaki Ochi.
Selain ingin mempertemukan wacana Asia dan Barat terutama dalam
gerak, Gerard berangkat dari konsep bahwa untuk mendapatkan
orisinalitas dan profesionalitas, penari sehari-hari – yang tak
profesional sekalipun – tetap memungkinkan. Inilah hasilnya:
”Kebun”.
Ada hal yang menarik di dalam pagelaran tari balet ini, yaitu bahwa
sebuah koreografi akan menarik dengan konsep-konsep yang tak bisa
dilepaskan dalam sebuah pertunjukan. Seperti Gerard pernah katakan
kepada SH, bahwa penampilan gerak tarinya punya penanda sendiri
termasuk untuk struktur pertunjukan. Dasar tari balet atau bahkan
tradisi adalah elemen dasar, dan harus dicari orisinalitas si
koreografer untuk pertunjukannya. Adanya inovasi. Gerard juga bicara
tentang konsep seorang koreografer, misalnya saja bagaimana
menampilkan sketsa sebuah kebun di dalam gerak, pertunjukan tari
”Kebun”-nya, atau bicara kelenturan waktu dan pemahaman manusia pada
ruang untuk menjelaskan sebuah eksistensi dan interaksi yang harus
dilakukan pada nomornya yang terdahulu, ”Stretching Time”.
Balet Klasik dan Koreografi
Komposisi ”Kebun”-nya Gerard ini ditampilkan setelah di tengah
permainan tari Balet Klasik oleh kelompok balet di Indonesia antara
lain Pluit Ballet School, Sanggar Pelangi Sunrise, Gracia Ballet,
Lucy Ballet School, Caritas Ballet, Vidyarani Ballet Studio,
Genecela Dance Centre, Cicilia Ballet, Ratna Ballet School dan
Namarina Ballet School.
Acara yang di tengah momen penutupan Festival Budaya Jakarta – 2004
Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta ini, diselenggarakan
oleh Ikatan Pengajar dan Pelatihan Ballet (IPPB). Dengan tajuk besar
acara ”Ballet Innovation” setidaknya ”dituntut” inovasi dari tiap
koreografer pada setiap nomor tarian yang ada.
Sekalipun dengan pengertian bahwa kelompok tari ini lebih
mengutamakan pendidikan, dalam sajiannya, tetap saja koreografi
merupakan faktor penting. Sayangnya, di beberapa nomor sajian, tiap
kelompok balet ini memang sangat menekankan unsur tari klasik dengan
pola gerakannya yang ”pakem” atau ”mainstream”.
Bahkan, untuk formasi atau pun gerak simbolik atau pun menghadirkan
narasi untuk pencapaian keunikan, univasi dan orisinalitas tampaknya
masih perlu dilakukan. Apalagi, kelompok balet ini membuat tajuk
pada setiap nomornya. Misalnya saja ”Waltz Dream” (oleh kelompok
Caritas Ballet), ”Catching Butterfly” (kelompok Gracia Ballet),
”Colors of Life” (oleh kelompok Vidyarani Ballet Studio) dan ”Sailor
Dance” (oleh Pluit Ballet School).
Misalnya saja, Catching Butterfly oleh Gracia Ballet sangat
menampilkan narasi dari pola gerakan tarinya, di mana sebagian
penari membawa ”kertas mirip kupu-kupu”, dan penari lainnya membawa
perangkap jala. Di tengah gerakan balet klasik, ada formasi tertentu
dicipta oleh koreografer Susan Juwono untuk kesan suasana
penangkapan kupu-kupu itu. Untuk gerakan yang lincah, tari balet
kontemporer ditampilkan oleh Edmund Gaerlan dari Genecela Dance
Teater dengan tema ”Sssss...sss..ssst!!!”, yang adegan terakhirnya
menarik ketika membuat ”ssst” di depan penonton dengan mimik dan
ekspresi lucu.
Ada juga Yanti Jayusman dari Cicilia Ballet yang antara penarinya
interaktif dengan mengusung penari lainnya, namun di adegan akhir
dengan dua penari diam, dan terkesan mendadak dalam posisi
penarinya. Namarina Dance Company lewat koreografer Dinar Karina,
khas dengan gerakannya yang enerjik dan sangat terampil, dengan
nomor ”Spanish Concerto”. Sepuluh penari membuat formasi yang
interaktif dan kompak menguasai ruangan panggung, gerak para penari
sangat lincah dengan formasinya. sangat termasuk dengan menggerakkan
gaunnya sebagaimana sebuah ”Spanish Concerto”. Menarik melihat
fenomena dalam pertunjukan ini, semata-mata bukan untuk
membandingkan nomor-nomor tari balet yang dipergelarkan oleh
kelompok tari balet ini dengan pertunjukan Gerard Mosterd. Namun,
kesan tentang betapa pentingnya konsep dan inovasi gerak di dalam
sebuah koreografi pertunjukan, dalam konteks ini terutama untuk
pertunjukan tari balet, itu lebih penting.
(SH/sihar ramses simatupang)
|
|