|
”Luminescent
Twilight”
Bersatunya Timur dan Barat dalam Eksplorasi Gerak Tari
Jakarta, Sinar Harapan
Dua penari dari kutub berbeda, Ester Natzijl mewakili Barat dan
Wei-Meng Poon mewakili Timur bersenyawa di atas panggung Gedung
Kesenian Jakarta selama dua hari berturut-turut 28 dan 29 September
lalu. Gerak-gerak tari yang diciptakan koreografer asal Belanda,
Gerard Mosterd, dan diberi judul Luminescent Twilight ini
diterjemahkan dengan indah oleh keduanya.
Baik Ester maupun Wei-Meng mempertunjukkan gerakan-gerakan yang
sangat jelas perbedaannya. Gerak yang lembut dengan lentik jemari
pada Wei (yang disebut juga Tek Ng Vong) memperlihatkan gerak dari
tarian timur. Sementara itu, Ester mengeksplorasi ekspresi dan
keseluruhan gerak tubuh yang berpatahan, mulai dari tangan hingga
pinggul, bahkan gerak kakinya. Gerakannya menyimbolkan peradaban
Barat pada tarian-tariannya.
Sejak awal pergelaran, keduanya menari tunggal secara bergantian.
Dengan terus menari, keduanya tetap tidak saling bersinggungan.
Respons hanya terjadi ketika mereka saling berganti muncul di
panggung atau keduanya bergerak gemulai pada ujung-ujung panggung.
Baru menjelang akhir pertunjukan, keduanya kemudian bergerak dan
bermain di antara lampu dan layar kertas.
Pada saat keduanya terpisah oleh layar itulah, terjadi gerak-gerak
yang memikat. Baik pada gerak gemulai Wei atau gerak berpatahan dan
ekspresif dari Ester—keduanya muncul atau menghilang menjadi siluet
di balik layar kertas—tetapi keduanya terus berdialog.
Di ujung tegangan gerak tubuh dan gerak bayang atau siluet di layar
itulah, Wei merobek kertas pemisah itu. Sementara itu, Ester takjub
tetapi tetap dengan gaya dan gerakan tarinya yang khas,
mengeksplorasi gerak tubuh hingga meregang dan melar kaku. Juga
ekspresi tubuhnya yang terkadang seram dan memunculkan mimik lucu.
Seakan trance dan menggeliat, kontras sekali dengan gerak gemulai si
pria baik pada tubuh dan tangannya meliuk bagai spiral, keindahan
eksotika timur bermain dalam bayang-bayang transparan.
Pada awal dan tengah pertunjukan memang ada dua gerakan dominan dari
Ester yang sangat menarik perhatian. Pertama, gerak seolah tangan,
kaki dan tubuhnya menerima sebuah benda kecil yang bergerak dan
mengganggunnya. Yang sempat ”masuk” ke tubuhnya sehingga kejang dan
akhirnya Ester melepaskannya terbang.
Menurut sang penari, itu adalah semacam cara untuk menikmati
tariannya dan sesuatu yang jenaka sekaligus menggairahkan buat para
penonton. Gerak kedua berupa tangan yang berirama ”menjelma jarum
jam”. Tangan Ester seolah sebuah jam apalagi diiring musik yang
berdetak. ”Itu merupakan simbol tentang barat yang sangat terpacu
pada waktu,” ujarnya.
Keduanya memang sangat berbeda. Namun, akhirnya, keduanya saling
bertautan. Walau tidak menyatu sepenuhnya dengan memperlihatkan
tubuh yang saling berdekapan, mereka bisa bergerak di atas panggung,
tangan dan tubuh bergerak disertai dengan ritme yang tak tentu
sehingga terkadang penari menjauh dan mendekat. Menariknya, saat
dimunculkan musik keroncong, keduanya sempat seiring dalam gerakan.
Keduanya tetap menghasilkan pertautan, walau mulanya gamang dengan
kebersamaan.
Belajar
Menurut Ester, sejak awal dia memang telah memakai gerak tersebut
untuk memperlihatkan simbol tertentu. Dia juga mengaku itulah gerak
yang selama ini diketahuinya. Tarian kontemporer memang menjadi
dasar Ester.
Untuk gerak gemulai pada jari yang diperlihatkannya menjelang akhir
pertunjukan, Ester mengaku baru mempelajari dari majalah dan
televisi. ”Seperti ini, saya sudah tahu dari bacaan dan tontonan,”
ujarnya, memperlihatkan wajah dan mata bergerak serta tangan
bergemulai ala penari Bali.
Wei, yang menghabiskan satu bulan untuk bisa berkolaborasi dengan
Ester ini mengatakan bahwa dia merasa senang dalam interaksi gerak
pada tarian dengan basis yang berbeda ini. Penari pria yang berasal
dari Malaysia itu mengatakan bahwa pada dasarnya tema yang di atas
merupakan bahasa lain dari fenomena kegamangan budaya barat dan
timur yang seolah kontras tetapi sesungguhnya tetap menghasilkan
dialog yang bisa saling berkaitan.
Tertarik
Gerard Mosterd, sang koreografer, yang lahir dan besar di kota
Amsterfoort dan mengalir ”sedikit” darah timur ini, menyukai durasi
antara terang dan gelap. Misteri dan pesona dunia timur pun
dicarinya pada gerak dan tarian. Dibantu pemusik gamelan Niels Walen
dan komposer Paul Goodman, Gerard mewujudkan kecintaannya itu.
Gerard melahirkan banyak karya tari kontemporer yang lahir dari dua
sisi kebudayaan yang bertolak belakang sehingga menimbulkan
ketegangan dan salah persepsi. Namun, saat gerakan itu disajikan
dapat tertangkap percakapan dan sebuah pertemuan dari dua kebudayaan
itu.
Setelah berkarier sebagai penari pada event-event berskala
internasional, dia akhirnya memfokuskan dirinya pada perkembangan
produksi tari yang menggabungkan konsep tari Barat dan Timur untuk
seni tari dan teater. Penari ini kini menetap di Indonesia dan
bekerja sama dengan para musisi dan koreografer dalam setiap
pergelaran. (srs)
|
|